Lamborghini Huracán LP 610-4 t
Demam Bola Edisi: 112/2010 Sobat, even Piala Dunia 2010 telah menggema. Demam bola kerasa dimana-mana. Hampir seluruh dunia tenggelam dalam euforia permainan 2 x 25 menit ini. Masing-masing orang punya jagoannya sendiri-sendiri. Ada yang maniak dengan gocekan bola ala tarian samba Brazil. Ada yang megang Portugal karena gaya samba eropanya yang menawan. Ada yang lebih pro ke Inggris, karena punya Wayne Rooney dan Frank Lampard. Keberpihakan ini seakan memecah dunia menjadi 32 bagian. Ya, 32 adalah jumlah kontestan Piala Dunia saat ini. Hampir semua isu negeri kalah oleh pamor Piala Dunia. Century Gate, ga tahu kemana. Isu dihapusnya subsidi premium dan diganti dengan pertamax, juga udah terlupa. Opini naiknya tariff dasar listrik, apalagi…emang dipikirin. Belum lagi isu Palestina. Wah-wah, beritanya udah menghilang tak tahu entah kemana. Oya, ngomong-ngomong tentang Palestina, tahu ga kalo di peta dunia, Negara Palestina udah ga ada alias dihapus dengan sengaja. Diganti dengan negara Israel (laknatullah ‘alaihi). Kalo ga percaya, coba kamu search di Google map. Kamu bakal tercengang, kalo Masjid Al Aqsha, tempat Rasulullah Muhammad SAW melakukan isra’ mi’raj yang berada di kota Al Quds Palestina, sudah diganti dengan Masjid Al Aqsha, milik negara Israel. Hm…bukannya kita mau ngunjukkan gigi nasionalisme Negara Palestina, tapi perlu kita tahu, kalo mayoritas penduduk Palestina adalah muslim, yang sekarang didzolimi dan dianiaya oleh penguasa Israel dan penguasa negeri-negeri muslim yang diam seribu bahasa. Ditambah lagi dengan antengnya kita saat melihat momen Piala Dunia, seakan dunia lagi aman tentrem kerto raharjo. Udah, kalo udah nonton bola, ga inget yang lain. Hati-hati “Demam Bola” Soat, kita semua tahu kalo main sepak bola hukumnya boleh-boleh saja. Justru berolah raga dalam Islam sangat dianjurkan. Namun perlu diingat, harus tetap ada aturan yang kudu ditaati oleh individu seorang muslim. Salah satunya adalah menutup aurat. Kita semua ngerti, kalo aurat laki-laki adalah dari pusar hingga lutut. Sehingga lutut pun termasuk aurat yang tidak boleh diperlihatkan. Nah, kalau kita maen bola, trus pake celana pendek, mentang-mentang kakinya sekokoh Cristiano Ronaldo, dan gocekannya seheboh Olga Syahputra, hingga terlihat aurat kita, maka kita udah berbuat dosa. Inget tuh. Sama seperti wanita yang telah baligh, bila keluar rumah harus menutup aurat dengan kerudung dan jilbab, maka kewajiban menutup aurat juga berlaku bagi kaum lelaki. Meskipun cara menutupnya dan apa yang dipake untuk menutup aurat berbeda jenisnya. Ga mungkin atuh, kita yang laki-laki pake kerudung dan jilbab. Weh-weh lebay melambay dunk. Lagipula, aurat lelaki dan wanita jelas tidak sama. Karena jenis kelamin serta bentuk fisik keduanya ga mungkin bisa disamakan. Tapi yang pasti, kewajiban menutup aurat itu tetep ada. Demikian pula kalo kita menonton bola. Hukum asalnya sih mubah-mubah aja. Tapi, kalo dengan nonton kita jadi lupa belajar, makan, mandi ataupun sholat, maka kegiatan menonton kita itu bisa jadi haram lho. Apalagi kalo kita sudah maniak bola. Kalo udah nyetel tivi, udah dunia seakan milik pribadi, yang laennya ngontrak. Hehe. Dipanggil ortu ga ngeh. Diminta bantuan adek, ga mau. Disuruh belajar, bilangnya entar, setelah bolanya kelar. Tetep aja manteng bola, ati-ati, bukan hanya waktu kita saja yang terbuang sia-sia karena hanya menonton pertandingan sepak bola. Tetapi pola pikir kita juga bisa rusak gara-gara bola. Kita jadi ga bisa membedakan mana yang bener dan mana yang salah. Kita jadi sulit memilah, mana yang wajib, sunah, mubah, makruh dan haram. Itu semua gara-gara bola. Demam bola yang hanya istilah kiasan, bisa jadi kenyataan kalo pola pikir kita udah dikendalikan oleh lajunya bola. ”Iyalah...” Mail mode on. Pasti kamu bertanya, mana mungkin pola pikir manusia bisa rusak gara-gara nonton bola? Hehe, bisa atuh Kang. Contohnya ga jauh-jauh. Kita ga usah terbang ke Afrika Selatan. Coba tengok liga sepak bola yang bergulir di negeri kita. Hampir semua pendukung tim sepak bola di negeri ini pola pikirnya sudah dikendalikan oleh bola. Yup, kalo timnya kalah, ga terima trus maen keroyok, seruduk, tawur dan ngerusak. Itu semua gara-gara bola. Terus terang, saya sendiri dengan warga kampung, pernah bersitegang dengan pendukung persebaya (bonek) yang ngerusak mobil yang lagi diparkir tanpa alasan yang jelas. Nah, waktu bonek yang ngerusak tadi ditanya, kenapa ngerusak? Jawabnya enteng, cuma ikut-ikutan, sebel karena persebaya cuma bisa maen seri. Trus apa hubungannya am mobil yang dirusak? Tuh kan, pola pikirnya udah korslet. Oya, dan perlu juga kamu tahu, segigih apapun kamu mendukung tim bola kesayangan kamu, sebenarnya kamu ga akan pernah dapat apa-apa dari mereka. Justru kita yang bakalan rugi serugi-ruginya, baik materi maupun moril. Berapa banyak uang yang kita habiskan buat beli tiket, transport dan lain-lainnya, tuk ngedukung mereka. Sedangkan kalo mereka menang, siap yang dapat duitnya? Ya, mereka juga, pendukungnya bakal gigit jari sambil merenungi suaranya yang habis karena teriak-teriak nyanyiin mars lagu timnya. Itu masih rugi materi. Belum lagi kerugian morilnya. Kamu tahu kan fans Inggris yang disebut Hooligan, fans Persebaya Bonek, ataupun Fans Persija The Jack. Di mata masyarakat, fans tim sepak bola seperti mereka sudah dipandang sebagai orang-orang yang suka berbuat onar dan sakarepe udhele dhewe. Masyarakat udah muak dengan tingkah polah mereka, yang sukanya bikin rusuh dan hampir ga pernah melakukan kegiatan yang berdampak positif bagi masyarakat. Sekarang saya tanya deh, pernah ga Bonek memberikan santuan bagi anak yatim? Hm...sepengetahuan saya, ga ada tuh. Tapi kalo ngerusak fasilitas umum, mobil, main bakar-bakaran, tawuran, ngancurin kereta api, mukuli orang tak bersalah, kasusnya segunung, ga kurang-kurang. Belum lagi adanya ”usaha” yang dilakukan segelintir orang yang mencoba mengais keuntungan negatif dari pertandingan bola. Di layar kaca mungkin kamu sudah sering dengar tentang lembaga EuroBet ataupun Asia Bet, yang menyajikan kemungkinan tim mana yang menang saat diadakannya sebuah pertandingan. Sebenarnya lembaga-lembaga tersebut adalah klub judi yang memobilisasi dana penggemar bola di seluruh dunia untuk dijadikan taruhan. Yup, mereka mencoba meraup dolar dengan memanfaatkan momen pertandingan sepak bola. Keuntungan mereka luar biasa. Apalagi disaat even Piala Dunia seperti sekarang,...wuih bisa mandi diguyur duit tuh. Sedangkan di negeri kita ga jauh beda. Tidak sedikit orang yang melakukan judi dan ngadakan taruhan saat petandingan bola dilangsungkan. Mulai dari pegawai negeri, swasta, mahasiswa, bahkan murid SD dan SMP, juga ikut-ikutan kebawa main judi dan taruhan. ”Demam Bola” Bikin Korslet Pikiran Hm...sobat, terus terang kita ga ngelarang kamu untuk bermain sepak bola, karena berolah raga memang dianjurkan oleh agama. Kita juga ga ngelarang kamu untuk nonton sepak bola, karena hal ini boleh-boleh saja alias mubah dalam Islam. Hanya saja, apabila cara berpikir kita udah dikendalikan oleh pertandingan sepak bola, ini yang bisa membuat sesuatu yang mubah itu menjadi dilarang alias haram. Dalam Islam ada kaidah ushul yang menyebutkan, ”Sebuah sarana yang membawa sesuatu menjadi sebuah keharaman, maka sarana itu juga haram hukumnya.” Nah, jika kita masih nonton bola sekedar untuk melepas lelah, menghilangkan stres, itu sih ga ada masalah. Tapi, ketika kita nonton bola dengan alasan wajib tuk ditonton, hingga melupakan sholat, belajar Islam, dakwah, makan, minum, bahkan jika kita sampe rela untuk taruhan dan berjudi, maka kegiatan ini sudah ngebawa kita untuk sukses dalam meraih dosa. Oya, by the way kita kudu ingat, kalau momen Piala Dunia juga seuah permainan yang terorganisir. Ya, permainan ini seakan tela membutakan mata kita dengan apa saja yang terjadi di negeri-negeri Islam yang lain. Kita ga peduli dengan nasib rekan-rekan kita di Palestina. Kita seakan lupa dengan terjajahnya umat Islam di Kyrgistan. Kita juga enggan mengupdate berita tersiksanya sahabat-sahabat kita di Iraq. Ya Allah, kenapa kita jadi seperti ini? Sadarkan kami Ya Rabb. Permainan ini juga membuat generasi muslim terlena sehingga lupa dengan Islam dan aturan-aturannya. Kita juga dibikin lupa diri bahwa kita masih punya banyak kewajiban yang belum kita selesaikan hingga sekarang. Seperti belajar Islam dan mendakwahkannya untuk tegaknya syariah Islam. Kita lebih kenal siapa itu Didier Drogba daripada sahabat-sahabat Rasul. Kita lebih meneladani Steven Gerrard yang doyan ke diskotik dan maen perempuan daripada akhlak Rasulullah yang agung. Sobat, kita disini hanya mengingatkan kamu semua. Karena inilah yang juga diwahyukan Allah SWT kepada kita semua lewat Al Qur’an. Jangan sampe deh, hanya gara-gara sepak bola, kita jadi buta dan tuli terhadap Islam dan aturannya. Allah SWT berfirman, “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (TQS. Al-Hadid: 20) Sobat, kita juga termasuk penggemar sepak bola. Tapi sehobi-hobinya kita bermain bola ataupun nonton bola, bila sudah menyalahi aturan Islam, sorry sobat, kita ga akan ikutan ber“demam” bola ria. Daripada sengsara gara-gara bola, mending ngumpulin amal buat ke surga. Surga masih enak tuh…(dy)