Lamborghini Huracán LP 610-4 t
Amerika dan Inggris dalam Konferensi London: Berselisih Memperebutkan Pengaruh dan Kepentingan Atas Tanah Yaman! [Al-Islam 492] Perdana Menteri Inggris pada tanggal 1 Januari 2010 menyerukan diselenggarakannya Konferensi di London untuk membahas masalah Yaman dengan dalih untuk membantu Yaman keluar dari krisis. Konferensi tersebut telah diselenggarakan pada tanggal 27 Januari 2010, dihadiri oleh 21 negara dan hanya berlangsung selama dua jam! Konferensi menghasilkan beberapa resolusi mengenai dukungan kepada Yaman dalam upaya memerangi al-Qaeda; juga dukungan untuk pembangunan dan pelaksanaan program-program reformasi ekonomi dan politik, negosiasi dengan Dana Moneter Internasional (IMF) serta proses perdamaian secara menyeluruh. Sungguh, siapapun yang mengikuti apa yang telah dan sedang berlangsung di Yaman, pasti memahami bahwa berbagai resolusi itu hanyalah kedok yang digunakan untuk menyembunyikan berbagai keputusan yang sebenarnya; juga menyembunyikan berbagai situasi yang terjadi; menyembunyikan negara-negara yang memiliki pengaruh dan kepentingan atas Tanah Yaman, termasuk menyembunyikan tujuan yang sebenarnya dari penyelenggaraan konferensi tersebut berikut hasil-hasilnya. Sejak pengaruh Inggris bercokol di Yaman hingga hari ini, khususnya pada masa rezim sekarang, Amerika terus berupaya menciptakan guncangan terhadap situasi yang sedang berlangsung dan berusaha menerapkan pandangan lamanya yang kembali dipakai, bahwa Amerika adalah pewaris Barat di daerah-daerah koloni mereka. Karena itu, pengaruh Amerika harus bercokol di Yaman, bukan pengaruh Inggris yang sebenarnya sudah renta. Untuk itu, aktivitas-aktivitas Amerika di Yaman terfokus pada dua hal: misi intimidasi terhadap rezim Yaman dan pelatihan untuk innercircle (lingkaran kecil) politik yang loyal kepada Amerika. Untuk “misi intimidasi”, Amerika menggunakan Iran untuk mendukung Kelompok al-Houthy. Mereka bisa menjadi bom waktu yang siap diledakkan di utara Yaman dan perbatasan dengan Saudi ketika diperlukan. Adapun “misi pelatihan” untuk ‘lingkaran kecil’ politik yang loyal kepada Amerika itu adalah pergerakan yang berlangsung terus-menerus di selatan dengan tujuan untuk memisahkannya. Lalu akan dilakukan pemisahan wilayah selatan dari wilayah utara Yaman sebagai langkah pertama. Setelah semuanya itu, langkah berikutnya, Amerika bisa mulai memasukkan pengaruhnya ke Yaman secara menyeluruh. Amerika sukses melakukan semuanya itu sampai pada tingkat memaksa rezim berkuasa, dengan arahan dari Inggris, untuk mengambil langkah-langkah darurat pada dua aspek: Pertama, membujuk Amerika untuk mengadakan perjanjian keamanan dengan maksud agar Amerika membiarkan rezim di Yaman. Perjanjian keamanan dan militer ini ditandatangani di Shana’a pada tanggal 10 dan 11 Nopember 2009 yang lalu. Kedua, mengarahkan perang terhadap al-Qaeda! Tampilnya Yaman dalam kondisi berperang melawan al-Qaeda jelas akan memaksa Amerika membantu dan mendukung Yaman. Berikutnya, tentu akan meringankan tekanan Amerika terhadap Yaman di wilayah utara dan selatan. Inilah sebenarnya yang terjadi. Jadi, jelas sekali, bahwa pergerakan melawan al-Qaeda bukanlah sebuah kebetulan. Pergerakan itu berada di luar konteksnya secara umum. Pasalnya, saat negara sedang sibuk dalam menghadapi dua krisis di wilayah selatan dan utara ini, tentu bukan hal yang bisa jika ia justru membuka front/konflik ketiga kalau saja pergerakan ini bukan merupakan aktivitas politik dengan baju militer yang diarahkan oleh Inggris! Pada titik kritis ini, Perdana Menteri Inggris menyerukan diselenggarakannya Konferensi London. Tak lain, konferensi itu untuk memetik buah secara internasional dari pergerakan Yaman ke arah perang melawan al-Qaeda agar dunia internasional mendukung Yaman dan berpihak kepadanya. Konferensi juga dimaksudkan untuk menggiring Amerika untuk berpihak kepada Yaman dan meringankan tekanannya terhadap rezim Yaman, baik di wilayah utara maupun selatan. Tidak ada lagi pilihan bagi Amerika, kecuali menyetujui diselenggarakannya Konferensi London itu. Namun, Amerika juga ingin menggunakan konferensi itu untuk mewujudkan pilar-pilar bagi kepentingannya di Yaman, dengan target untuk mengejar al-Qaeda, sekaligus menguatkan serta menopang lingkaran politik kecil yang loyal kepadanya, khususnya di wilayah selatan. Karena itu, konferensi yang berlangsung selama sekitar dua jam itu hanyalah tempat para wakil dua puluh satu negara untuk ‘tersenyum’ di depan kamera secara terbuka. Pada saat yang sama, Amerika dan Inggris beserta negara-negara pendukungnya yang ikut dalam pertemuan itu berkumpul secara rahasia. Itu tak lain untuk meraih apa yang mereka inginkan dengan mengorbankan darah penduduk Yaman dan keluarga mereka! Wahai kaum Muslim: Sampai kapan negeri-negeri Muslim akan tetap menjadi medan pertarungan negara-negara besar dengan memperalat masyakarat pada tingkat lokal dan putra-putri mereka? Sampai kapan negeri-negeri kaum Muslim tetap menjadi panggung bagi Barat dalam melakukan permainan untuk menumpahkan darah kaum Muslim dan merampok kekayaan negeri-negeri mereka? Sampai kapan Barat akan tetap memicu api peperangan di negeri-negeri kaum Muslim, kapan dan di manapun mereka inginkan? Sampai kapan para penguasa di Yaman dan di negeri-negeri kaum Muslim lainnya akan terus menjadi bidak catur yang digerakkan oleh Barat penjajah? Belum tibakah waktunya bagi penduduk Yaman untuk menyadari, bahwa rezim Yaman dengan langkah-langkahnya yang zalim itu justru memudahkan pihak-pihak yang bertarung untuk berebut menguasai bumi Yaman, membunuh penduduknya, menghancurkan rumah-rumah mereka; sementara bagi mereka tidak ada yang lebih penting dari semua itu kecuali mempertahankan kursi pemerintahan meski sangat kecil, lemah dan nyaris runtuh! Selama Perang Yaman yang menyebar luas, puluhan ribu bahkan ratusan ribu orang telah terusir, terbunuh dan terluka. Apakah mereka tidak paham bahwa saling berperang di antara kaum Muslim adalah dosa yang sangat besar dan bahwa membunuh seorang Muslim tanpa alasan yang benar di hadapan Allah lebih besar dosanya daripada menghancurkan Ka’bah? Abdullah bin Umar ra. berkata: Aku melihat Rasulullah saw. tawaf mengelilingi Ka’bah, lalu bersabda: «مَا أَطْيَبَكِ وَأَطْيَبَ رِيحَكِ مَا أَعْظَمَكِ وَأَعْظَمَ حُرْمَتَكِ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَحُرْمَةُ الْمُؤْمِنِ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ حُرْمَةً مِنْكِ مَالِهِ وَدَمِهِ وَأَنْ نَظُنَّ بِهِ إِلاَّ خَيْرًا» Alangkah anggunnya kamu dan alangkah harumnya aromamu. Alangkah agungnya kamu dan alangkah agungnya kehormatanmu. Demi Zat Yang jiwa Muhammad berada di dalam genggaman tangan-Nya, sungguh kehormatan seorang Mukmin—baik menyangkut harta maupun darahnya—adalah lebih besar di sisi Allah daripada kamu, dan agar kami hanya berprasangka baik kepadanya (HR Ibn Majah). Wahai kaum muslim: Sesungguhnya musibah yang sedang menimpa kita saat ini ada dua. Pertama: para penguasa di negeri-negeri kaum Muslim yang tidak bertakwa kepada Allah dan tidak memelihara urusan negeri dan rakyatnya! Andai saja mereka mau berpikir, mereka pasti tahu bahwa penguasa yang menipu rakyatnya, yang tidak memelihara hubungan kekerabatan, dan tidak pula mengindahkan perjanjian itu, tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium aromanya. Rasulullah saw. bersabda: «مَا مِنْ وَالٍ يَلِي رَعِيَّةً مِنْ الْمُسْلِمِينَ فَيَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لَهُمْ إِلاَّ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ» Tidak ada seorang wali pun yang mengurusi rakyat Muslim mati, sementara ia menipu mereka (rakyat), kecuali Allah mengharamkan baginya surga (HR al-Bukhari). Lalu bagaimana jika penguasa itu justru menyesatkan rakyatnya, memutar-balikkan kebenaran menjadi kebatilan dan kebatilan menjadi kebenaran, serta menjadikan pengkhianatan sebagai amanah?! Sungguh, Ruwaibidhah (orang idiot) yang mengurusi urusan rakyat itu akan menuju kebinasaan. Rasulullah saw. bersabda: «إِنَّهَا سَتَأْتِي عَلَى النَّاسِ سِنُونَ خَدَّاعَةٌ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا اْلأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ السَّفِيهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ» \"Sungguh akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh tipudaya: pendusta dipercaya, sementara orang jujur didustakan; pengkhianat dianggap amanah, sementara yang amanah dianggap pengkhianat. Saat itu, Ruwaibidhah pun berbicara.\" Ada yang bertanya, “Siapakah Ruwaibidhah itu?” Nabi saw. menjawab, “Orang bodoh yang berbicara tentang urusan orang banyak.” (HR Ahmad). Kedua: sikap umat yang diam terhadap para penguasa zalim dan tidak mengingkari mereka, sekalipun semua musibah mendera umat dalam bentuk kehinaan yang direkayasa oleh para penguasa itu. Para penguasa itu telah mengabaikan Palestina, Kashmir, Chechnya, Cyprus, Timor Timur dan negeri kaum Muslim lainnya. Irak, Afganistan dan Pakistan lalu Yaman telah berubah menjadi medan pertarungan bagi Barat. Barat penjajah menyerang dan berkeliaran dengan bebas, sementara alat-alat mereka adalah para penguasa kaum Muslim dan para begundal mereka. Karena itu, bukan sesuatu yang diada-adakan kalau azab ditimpakan dan musibah diguyurkan, bukan hanya atas para penguasa itu, tetapi juga atas rakyat yang diam terhadap kezaliman mereka. Allah SWT berfirman: ﴿وَاتَّقُوا فِتْنَةً لاَ تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوْا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ﴾ Peliharalah diri kalian dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kalian. Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya (QS al-Anfal [8]: 25). Rasulullah saw. juga bersabda: «إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْا الْمُنْكَرَ بَيْنَهُمْ فَلَمْ يُنْكِرُوهُ يُوشِكُ أَنْ يَعُمَّهُمْ اللَّهُ بِعِقَابِهِ» Sesungguhnya manusia itu, jika melihat kemungkaran terjadi di tengah-tengah mereka, tetapi mereka tidak mengingkarinya, maka Allah pasti akan menimpakan azab atas mereka secara merata (HR Ahmad dan Abu Dawud). Wahai kaum Muslim: Sungguh, urusan ini tidak akan menjadi baik kecuali dengan apa yang menjadikan generasi awal dulu baik, yaitu: Khilafah Rasyidah yang berjalan mengikuti metode kjenabian, yang memutuskan perkara dengan hukum-hukum Allah sekaligus berjihad di jalan-Nya. Penguasa di dalamnya adalah Khalifah, yang menjadi perisai yang melindungi rakyat dan senantiasa membimbing mereka dengan nasihat. Pada saat itu, Amerika, Inggris dan negara-negara kafir penjajah lainnya tidak akan mempunyai waktu untuk menyerang negeri-negeri kita dan meluaskan pengaruhnya. Sebab, waktu mereka habis untuk menjaga tempat pijakan kaki-kaki mereka dan mundur ke negeri-negeri mereka. ﴿وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ﴾ Allah berkuasa atas urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya (QS Yûsuf [12]: 21). [Diringkas dari nasyrah yang dikeluarkan oleh Hizbut Tahrir tanggal 12 Shafar 1431 H/27 Januari 2010] KOMENTAR AL-ISLAM: Sekitar 12.000 Warga Belanda Telah Masuk Islam (Eramuslim.com, 2/2/2010). Cahaya Islam memang tak kan pernah bisa dihalangi oleh siapapun.